Ada kesalahan di dalam gadget ini

Windows Live Messenger

Selasa, 02 November 2010

DI/TII

Kata Pengantar
Puji dan Syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat-Nya dan Kemurahan-Nya saya dapat menyelesaikan tugas kinerja ilmiah ini dengan baik dan semampunya.
Tujuan saya membuat tugas kinerja ini agar saya dapat memiliki nilai kinerja ilmiah mengetahui tentang Terjadinya Disintegrasi Bangsa di Indonesia dalam mata pelajaran Sejarah. Selain itu juga tujuan saya yang lain adalah agar saya dapat mengetahui penyebab dan perjuangan terjadinya pemberontakan (DI/TII, PKI Madiun, APRA, Andi Aziz, RMS, PRRI/PERMESTA) serta cara pemerintah pada saat itu untuk menanggulanginya.
Dalam pembuatan ini juga saya mengucapkan terima kasih atas waktu yang telah diberikan oleh Pak Ade sebagai guru pembimbing pelajaran Sejarah ini. Serta teman – teman yang telah bersedia membantu saya.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua teman – teman yang membacanya untuk mengetahui pemberontakan yang pernah terjadi di Indonesia. Maka dari itu saya berharap bagi pembaca/teman – teman yang membacanya dapat memberi saran dan kritik bagi saya. Maaf apabila ada kata atau pun ada kalimat yang salah digunakan dalam pengetikannya.

Palembang,November 2009

















Daftar isi
Kata Pengantar ........................................................................1
Daftar Isi ........................................................................2
1. Gerakan DI/TII
A. DI/TII Jawa Barat ........................................................................3
B. DI/TII Jawa Tengah ........................................................................3
C. DI/TII Sulawesi Selatan ........................................................................4
D. DI/TII Aceh ........................................................................4
E. DI/TII Kalimantan Selatan .....................................................................4-5
2. Pemberontakan PKI Madiun ........................................................................5
3. Pemberontakan APRA ........................................................................6
4. Pemberontakan Andi Aziz ........................................................................6
5. Pemberontakan RMS ........................................................................7
6. Pemberontakan PRRI/PERMESTA .....................................................................7-9
Daftar Pustaka ......................................................................10





















1. Gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII)

A. DI/TII Jawa Barat
Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat berawal dengan ditandatanganinya Persetujuan Renville pada 17 Januari 1948 .Sekar Marijan Kartosuwiryo mendirikan Darul Islam (DI) bersama pasukannya yang terdiri atas Hizbullah dan Sabillah(kurang lebih sebanyak 4000 orang . Ia menolak untuk membawa pasukannya ke Jawa Tengah dan tidak mengakui lagi keberadaan RI. dan tujuannya juga menentang penjajah Belanda di Indonesia. Akan tetapi, setelah makin kuat, S.M.Kartosuwiryo memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) pada tanggal 17 Agustus 1949 di Desa Cisayong,Jawa Barat dan tentaranya dinamakan Tentara Islam Indonesia (TII) saat itu lah tidak sedikit rakyat yang menjadi korban. Upaya pemerintah untuk menghadapi gerakan DI/TII pemerintah bekerja sama dengan rakyat setempat.Dan dijalankan lah taktik dan strategi baru yang disebut Perang Wilayah.Pada 1 April 1962 dilancarkan Operasi Bharatayuda yaitu operasi penumpasan gerakan DI/TII. Dengan taktis Pagar Betis. Pada tanggal 4 juni 1962, S.M.Kartosuwiryo beserta para pengikutnya berhasil ditanggap oleh pasukan Siliwangi di Gunung Geber, Majalaya, Jawa Barat.Ia sempat mengajukan grasi kepada Presiden,tetapi di tolak. Akhirnya S.M.Kartosuwiryo dijatuhi hukuman mati di hadapan regu tembak dari keempat angkatan bersenjata RI 16 Agustus 1962.

B. DI/TII Jawa Tengah
Gerakan DI/TII di Jawa Tengah yang dipimpin oleh Amir Fatah dan Kyai Sumolangu di bagian utara, yang bergerak di daerah Tegal, Brebes dan Pekalongan. Inti kekuataanya adalah pasukan Hizbullah yang dibentuk di Tegal,1946 dan pada 23 Agustus 1949, Amir Fatah memproklamasikan berdirinya Darul Islam dan menyatakan brgabung dengan DI/TII S.M.kartosuwiryo.Pasukannya dinamakan Tentara Islam Indonesia (TII) dengan sebutan Batalion Syarif Hidayat Widjaja Kusuma(SHWK).Untuk menghancurkan gerakan ini, Januari 1950 dibentuk Komando Gerakan Banteng Negara (GBN) dibawah Letkol Sarbini. Pemberontakan di Kebumen dilancarkan oleh Angkatan Umat Islam (AUI) yang dipimpin oleh Kyai Moh. Mahfudh Abdurrahman (Kyai Sumolanggu) Gerakan ini berhasil dihancurkan pada tahun 1957 dengan operasi militer yang disebut Operasi Gerakan Banteng Nasional dari Divisi Diponegoro. Gerakan DI/TII itu pernah menjadi kuat karena pemberontakan Batalion 426 di Kedu dan Magelang/ Divisi Diponegoro. Didaerah Merapi-Merbabu juga telah terjadi kerusuhan-kerusuhan yang dilancarkan oleh Gerakan oleh Gerakan Merapi-Merbabu Complex (MMC). Gerakan ini juga dapat dihancurkan. Untuk menumpas gerakan DI/TII di daerah Gerakan Banteng Nasional dilancarkan operasi Banteng Raiders.


C. DI/TII Sulawesi Selatan
Gerakan DI/TII di Sulawesi Selatan dipimpin oleh Kahar Muzakar.Latar belakang pemberontakan ini berbeda dari yang terjadi di Jawa barat dan Jawa tengah. Pada tanggal 30 April 1950 Kahar Muzakar mengirim surat kepada Pemerintah pusat untuk membubarkan Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) dan anggotanya disalurkan ke dalam APRIS. Tenyata Kahar Muzakar menuntut agar Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan dan kesatuan gerilya lainnya dimasukkan delam satu brigade yang disebut Brigade Hasanuddin di bawah pimpinanya. Tuntutan itu ditolak karena banyak diantara mereka yang tidak memenuhi syarat untuk dinas militer. Pemerintah mengambil kebijaksanaan menyalurkan bekas gerilyawan itu ke Corps Tjadangan Nasional (CTN). Pada saat dilantik sebagai Pejabat Wakil Panglima Tentara dan Tetorium VII, Kahar Muzakar beserta para pengikutnya melarikan diri ke hutan dengan membawa persenjataan lengkap dan mengadakan pengacauan serta pada tahun 1952, ia menyatakan bahwa wilayah Sulawesi Selatan menjadi bagian dari Negara Islam Indonesia pimpinan S.M.Kartosuwiryo di Jawa Barat pada tanggal 7 Agustus 1953. Penumpasan pemberontakan Kahar Muzakar memakan waktu lebih dari 14 tahun. Faktor yang menjadi penyebab lamanya adalah rasa kesukuan yang ditanamkan dan gerombolan ini telah berakar di Hati rakyat Kahar Muzakar dan gerombolannya mengenal sifat rakyat dan memanfaatkan lingkungan alam yang sangat dikenalnya. Tanggal 3 Februari 1965, Kahar Muzakar tertembak mati dalam sebuah kontak senjata dengan pasukan RI.

D. DI/TII Aceh
Adanya berbagai masalah antara lain masalah otonomi daerah, pertentangan antargolongan, serta rehabilitasi dan modernisasi daerah yang tidak lancar menjadi penyebab meletusnya pemberontakan DI/TII di Aceh.Daerah Aceh sebelumnya menjadi daerah istimewa diturunkan statusnya menjadi daerah Karasidenan di bawah provinsi Sumatera Utara. Gerakan DI/TII di Aceh dipimpin oleh Tengku Daud Beureueh yang pada tanggal 21 September 1953 memproklamasikan daerah Aceh sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia dibawah pimpinan S.M.Kartosuwiryo dan memutuskan hubungan dengan Jakarta. Pemberontakan DI/TII di Aceh diselesaikan dengan diadakannya musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh pada tanggal 17 – 28 Desember 1962 atas inisiatif Pangdam I Bukit Barisan, Kolonel Jasin. Dalam musyawarah ini, dibicarakan berbagai permasalahan yang dihadapi dan kesalahpahaman yang terjadi.Akhirnya dari musyawarah bersama tersebut ialah pulihnya kembali keamanan di daerah Aceh.

E. DI/TII Kalimantan Selatan
Pada akhir tahun 1950,Kesatuan Rakyat Jang Tertindas(KRJT) melakukan penyerangan ke pos-pos TNI di Kalimantan Selatan. KRJT dipimpin seorang mantan Letnan dua TNI yang bernama Ibnu Hadjar alias Haderi alias Angli.Ibnu Hadjar sendiri kemudian menyerahkan diri. Akan tetapi , setelah merasa kuat dan memperoleh peralatan perang, ia kembali membuat kekacauan dengan bantuan Kahar Muzakar dan S.M.kartosuwiryo. Pada tahun 1954, Ibnu Hadjar diangkat sebagai panglima TII wilayah Kalimantan. Akhirnya, Pemerintah melalui TNI berhasil mengatasi gerakan yang dilakukan oleh Ibnu Hadjar pada tahun 1959 dan Ibnu Hadjar berhasil ditangkap dan pada 22 maret 1965 dan ia dijatuhkan hukuman mati oleh pengadilan militer.

2. Pemberontakan PKI Madiun 1948
Amir Syarifuddin mengecam hasil Perjanjian Renville dan menyusun kekuatan dalam Front Demokrasi Rakyat(FDR) yang dibentuk pada tanggal 28 Juni 1948 di Surakarta, Front ini menyatukan semua golongan sosialis kiri dan komunis. Kekuatan PKI makin bertambah besar setelah kedatangan Musso dari Uni Soviet. Muso menyusun doktrin PKI dengan nama Jalan Baru dengan dibentuknya Front Nasional, yaitu penggabungan segala kekuatan sosial, politik, dan perorangan yang berjiwa antiimperialistis dan untuk menjamin kelangsungan Front Nasional maka dibentuklah Kabinet Front Nasional yang terdiri dari PKI, Partai Sosialis, dan Partai Buruh Indonesia. Selain itu, didukung pula oleh Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI).
Insiden di Delanggu menjadi insiden bersenjata di kota Surakarta antara pendukung Front Demokrasi Rakyat dengan kelompok Tan Malaka yang bergabung dalam Gerakan Revolusi Rakyat, maupun dengan pasukan hijrah TNI. Insiden-insiden memang telah direncanakan oleh PKI yang bertujuan daerah Surakarta dijadikan daerah kacau, sedangkan daerah Madiun dijadikan basis gerilya. Aksi PKI memuncak pada tanggal 18 September 1948 dengan ditandai para tokoh PKI mengumumkan berdirinya Soviet Republik Indonesia. Tindakan itu bertujuan untuk meruntuhkan Republik Indonesia hasil Proklamasi 17 Agustus 1945 yang berdasarkan Pancasila dan menggantinya dengan ajaran komunis. Panglima Besar Jenderal Sudirman langsung mengeluarkan perintah untuk merebut Madiun kembali. Panglima Besar Jenderal Sudirman memerintahkan Kolonel Gatot Subroto dari Jawa Tengah dan Kolonel Sungkono dari Jawa Timur untuk memimpin penumpasan terhadap kaum pemberontak.Pada waktu yang sama Musso menyerang pemerintah dengan mengatakan bahwa Soekarno-Hatta telah menjalankan politik kapitulasi kepada Belanda dan Inggris, serta hendak menjual tanah air kepada kapitalis.Kemudian pemerintah mengambil tindakan dengan melancarkan Gerakan Operasi Militer I. Pimpinan Operasi tersebut diserahkan kepada Kolonel A.H.Nasution beliau menjabat sebagai Panglima Markas Besar Komando Djawa(MBKD).Pada tanggal 30 September 1948, Madiun berhasil direbut kembali dan dalam operasi itu Musso akhirnya tertembak mati, dan Amir Syarifuddin dan tokoh-tokoh lainnya berhasil ditangkap dihutan Ngrambe, Grobogan, Purwodadi dan kemudian dihukum mati di Yogyakarta. Pemberontakan PKI di Madiun telah berhasil ditumpas, namun bangsa Indonesia masih harus menghadapi Belanda yang berusaha menegakkan kembali Pemerintahannya di Indonesia.
3. Pemberontakan APRA
Pada bulan Januari 1950 di Jawa Barat di kalangan KNIL timbul Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang dipimpin oleh Kapten Raymond Westerling bekas komandan pasukan KNIL bentukan Belanda di Indonesia. Tujuan APRA adalah mempertahankan bentuk Negara Federal Pasundan di Indonesia dan mempertahankan adanya tentara sendiri pada setiap negara bagian Republik Indonesia Serikat. APRA mengajukan ultimatum menuntut supaya APRA diakui sebagai Tentara Pasundan dan menolak dibubarkannya Pasundan/negara Federal. Ultimatum tidak ditanggapi oleh pemerintah, maka pada tanggal 23 Januari 1950 di Bandung APRA melancarkan penyerbuan mendadak sekitar 800 orang, APRA berhasil ditumpas. Ternyata dalang gerakan APRA ini berada di Jakarta, yakni Sultan Hamid II. Rencana gerakannya di Jakarta ialah menangkap beberapa menteri Republik Indonesia Serikat yang sedang menghadiri sidang Kabinet RIS dan membunuh Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sekertaris Jenderal Kementerian Pertahanan Mr. Ali. Budiardjo, dan Pejabat Kepada Staf Angkatan Perang Kolonel T.B Simatupang. Rencana tersebut berhasil diketahui, sehingga sidang kabinet ditunda. Sultan Hamid II berhasil ditangkap pada tanggal 4 April 1950. Akan tetapi, Westerling berhasil melarikan diri ke luar negeri.

4. Pemberontakan Andi Aziz di Sulawesi Selatan
Andi Aziz adalah kapten perwira Koninklijke Nederland Indische Leger(KNIL) yang bersama pasukannya bergabung dengan APRIS pada 30 Maret 1950. Komandan APRIS saat itu adalah Letkol A.J. Mokoginta, Panglima Tentara dan Teritorium Indonesia Timur
Adapun faktor yang menyebabkan pemberontakan adalah :
Menuntut agar pasukan bekas KNIL saja yang bertanggung jawab atas keamanan di
a. Negara Indonesia Timur.
b. Menentang masuknya pasukan APRIS dari TNI
c. Mempertahankan tetap berdirinya Negara Indonesia Timur.
Karena tindakan Andi Azis tersebut maka pemerintah pusat bertindak tegas. Pada tanggal 8 April 1950 dikeluarkan ultimatum bahwa dalam waktu 4 x 24 jam Andi Azis harus melaporkan diri ke Jakarta untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pasukannya harus dikonsinyasi, senjata-senjata dikembalikan, dan semua tawanan harus dilepaskan. Kedatangan pasukan pimpinan Mayor H.V.Worang kemudian disusul oleh pasukan ekspedisi yang dipimpin oleh Kolonel A.E Kawilarang pada tanggal 26 April 1950 dengan kekuatan dua brigade dan satu batalion di antaranya adalah Brigade Mataram yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Suharto(mantan Presiden RI). Kapten Andi Azis dihadapkan ke Pengadilan Militer di Yogyakarta untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara.

5. Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS)
Pada tanggal 24 April 1950 di Ambon diproklamasikan berdirinya Republik Maluku Selatan (RMS) yang dilakukan oleh Mr. Dr. Christian Robert Steven Soumokil mantan Jaksa Agung Negara Indonesia Timur(NIT). Soumokil sebenarnya terlibat dalam pemberontakan Andi Azis. Namun, setelah gagalnya gerakan itu ia melarikan diri ke Maluku Tengah dengan Ambon sebagai pusat kegiatannya. Untuk itu pemerintah mengutus Dr. Leimena untuk mengajak berunding. Misi Leimena tidak berhasil karena RMS menolak untuk berunding. Ia bahkan meminta bantuan pengakuan dari negeri Belanda,Amerika Serikat,dan komisi PBB untuk Indonesia. Pada tanggal 12-13 Juni1950 diadakan Konferensi Maluku di Semarang. Pemerintah RIS bertindak tegas, pasukan ekspedisi di bawah pimpinan Kolonel A. E. Kawilarang dikirimkan ke Ambon.Serangan APRIS ke Ambon dibagi atas tiga kelompok yaitu Group I dipimpin oleh Mayor Achmad Wiranatakusumah, Group II dipimpin oleh Letnan Kolonel Slamet Riyadi, Group III dipimpin oleh Mayor Surjo Subandrio. Pada 3 November 1950 Dalam pertempuran memperebutkan benteng New Victoria, Letkol Slamet Riyadi tertembak dan gugur. Pada tanggal 28 September 1950 pasukan ekspedisi mendarat di Ambon dan bagian utara pulau itu berhasil dikuasai. Tanggal 2 Desember 1963 Dr. Soumokil berhasil ditangkap selanjutnya tanggal 21 April 1964 diadili oleh Mahkamah Militer Laut Luar Biasa dan dijatuhi hukuman mati.

6. Pemberontakan PRRI/PERMESTA
Pemberontakan PRRI/Permesta didahului dengan pembentukan dewan-dewan di beberapa daerah di Sumatera, antara lain :
1. Dewan Banteng di Sumatera Barat/Sumatera Tengah, Bukit Tinggi oleh Letnan Kolonel Achmad Husein (20 Desember 1956) sebagai Komandan ke IV dan ditemani oleh Kolonel Zulkifli Lubis.
2. Dewan Gajah di Medan oleh Kolonel Maludin Simbolon (22 Desember 1956) sebagai Panglima TT I Bukit Barisan.
3. Dewan Garuda di Palembang oleh Letkol Barlian (14 Desember 1956) sebagai Panglima TT II Sriwijaya.
4. Dewan Lambung Mangkurat di Kalimantan Selatan oleh Kolonel Hasan Bachri.
5. Dewan Manguni di Manado oleh Letnan Kolonel Ventje Sumuai (18 Februari 1957).
Faktor yang menimbulkan pemberontakan PRRI/PERMESTA :
1. Para perwira tidak puas pada pemerintah pusat karena pemerintah pusat melakukan ketidakadilan bagi para perwira di luar Jawa yaitu yang bertugas di Jawa mendapat Hak-hak dan tunjangan lebih besar daripada di luar Jawa.
2. Adanya anggapan bahwa di pusat hanya mementingkan perkembangan di pulau jawa saja.
3. terjadi pertentangan yang berlarut–larut dalam partai politik saling menjatuhkan (konstituante selalu gagal dalam UUD 1945)
4. Lahirnya konsepsi presiden
Tujuan pembentukan dewan dewan bagi masyarakat untuk mensejahterakan rakyat karena pemerintah pusat tidak lagi mensejahterakan kehidupan masyarakat di luar Pulau Jawa. Tanggal 10 Februari 1958 Dewan Banteng mengultimatum Pemerintah Pusat :
1. Dalam waktu 5x24 jam cabinet Juanda diserahkan kepada Soekarno
2. Presiden Soekarno harus segera menugaskan Drs. Mohammad Hatta dan Sultan Hamengkubuwono IX untuk mengesahkan cabinet (kabinet zaken : membentuk cabinet yang alih dalam bidangnya).
3. Meminta kepada Presiden Soekarno supaya kembali pada kedudukannya sebagai presiden yang konstitusional(UUD).
Pemerintah Pusat menanggapi tegas Ultimatum:
1. Memecat dengan tidak hormat mereka dari keanggotaan TNI(achmad Husein, Simbolon, Zulfifli Lubis, dan Dahlan Djambek).
2. Pemerintah juga menagkapkan mereka ke pengadilan MAHMILU.
3. Mulai tanggal 12 Februari 1958 Abdul Halis Nasution sebagai angkatan darat membekukan Komando dan staff KODAM Sumatera Tengah.
Pada tanggal 15 Februari 1958 mendidirikan organisasi yang bernama Gerakan Perjuangan Mdiketuai oleh Letnan Kolonel Achamad Husein. Gerakan Husein ini akhirnya mendirikan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) yang berkedudukan di Bukittinggi dengan Syafruddin Prawiranegara sebagai pejabat presiden. Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) pada hari berikutnya mendukung dan bergabung dengan PRRI sehingga gerakan bersama itu disebut PRRI/Permesta. Permesta yang berpusat di Manado tokohnya adalah Letnan Kolonel Vantje Sumual, Mayor Gerungan, Mayor Runturambi, Letnan Kolonel D.J. Samba, dan Letnan Kolonel Saleh Lahade. Pada tanggal 17 Februari Kolonel D.J.Samba sebagai komandan Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah mendukung sepenuhnya lahirnya PRRI di Sumatera dan saat itu juga menyatakan Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah putus hubungan dengan Pemerintah Pusat.
Untuk menumpas pemberontakan PRRI/Permesta dilaksanakan operasi gabungan yang terdiri atas unsur-unsur darat, laut, udara, dan kepolisian. Serangkaian operasi yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Operasi Tegas dengan sasaran Riau dipimpin oleh Letkol Kaharudin Nasution. Tujuan mengamankan instansi ,berhasil menguasai kota Pekanbaru pada tanggal 12 Maret 1958, dan mencegah campur tangan asing.
Bukti adanya bangsa asing :
a. Minyak bumi CALTEX
b. Pesawat B-26 jatuh tertembak di kota Ambon 18 Mei 1958 tapi pilotnya masih hidup yang bernama Alan Lawrence Pope(Amerika Serikat) diadili tanggal 11 Januari 1960 di Jakarta, sementara Mayor(laut) R.Soedomo yang memberikan kesaksian.
c. Banyak senjata senjata made in Amerika lebih canggih dari pada senjata senjata TNI Indonesia.
2. Operasi 17 Agustus dengan sasaran Sumatera Barat dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani berhasil menguasai kota Padang pada tanggal 17 April 1958 dan menguasai Bukittinggi 14 Mei 1958.
3. Operasi Saptamarga dengan sasaran Sumatera Utara mencari pendukung Komarudin Simbolon dipimpin oleh Brigjen Jatikusumo.
4. Operasi Sadar dengan sasaran Sumatera Selatan dipimpin oleh Letkol Dr. Ibnu Sutowo mencari Kolonel Barlian.
Untuk menumpas pemberontakan Permesta dilancarkan operasi gabungan dengan nama Merdeka yang terdiri dari :
A. Operasi Saptamarga I dengan sasaran Sulawesi Utara bagian Tengah, dipimpin oleh Letkol Sumarsono.
B. Operasi Saptamarga II dengan sasaran Sulawesi Utara bagian Selatan, dipimpin oleh Letkol Agus Prasmono.
C. Operasi Saptamarga III dengan sasaran Kepulauan Sebelah Utara Manado(Tangir dan Talaut), dipimpin oleh Letkol Magenda.
D. Operasi Saptamarga IV dengan sasaran Sulawesi Utara, dipimpin oleh Letkol Rukminto Hendraningrat .
E. Operasi Mena I dengan sasaran Jailolo, dipimpin oleh Peters.
F. Operasi Mena II dengan sasaran Lapangan udara di Morotai, dipimpin oleh Humholz.
Akhirnya, pada akhir Mei 1961 Ahmad Hoesin melaporkan diri dengan pasukannya ke pemerintah pusat dan diikuti oleh para tokoh tokoh lainnya, lalu tanggal 22 Juni 1961 pemerintah RI memberikan amnesty dan abolisi baik PRRI/PERMESTA setia pada NKRI.

1. Pemberontakan DI / TII
 DI / TII Jawa Barat( 7 Agustus 1949 , pimpinan Sekarmadji Maridjan kartosoewiryo )

A. Sebab Umum dan Khusus Pemberontkan dan Tujuan Pemberontkan
A.1 Sebab Khusus Pemberontakan :
Pemerintah RI menandatangani Perjanjian Renville yang mengharuskan pengikut RI mengosongkan wilayah Jawa Barat dan pindah ke Jawa Tengah , hal ini dianggap Kartosuwirjo sebagai bentuk pengkhianatan Pemerintah RI terhadap perjuangan rakyat Jawa Barat(karena ada beberapa komandan TNI yang menjanjikan akan meninggalkan
semua persenjataannya di Jawa Barat jika mereka hijrah nanti. ). Bersama kurang lebih 2000 pengikutnya yang terdiri atas laskar Hizbullah dan Sabilillah, Kartosuwirjo menolak hijrah dan mulai merintis usaha mendirikan Negara Islam Indonesia (NII).

A.2 Sebab Umum Pemberontakan
-Kekosongan kekuatan di Jawa Barat
-Kartosuwirjo / rakyat menolak kalau Jawa Barat itu diserahkan kepada belanda begitu saja
-Rasa tdk puas dg keputusan perjanjian yg mengharuskan TNI keluar dr daerah
kantong dan masuk ke wilayah RI




A.3 Apa Tujuan Pemberontakan
1. Ingin mendirikan negara yang berdasarkan agama islam lepas dari NKRI
Sewaktu tentara Belanda menduduki ibukota RI di Yogyakarta.
2. Menjadikan Syariat islam sebagai dasar Negara ( pola tingkah laku ,dalam
keluarga /masyarakat/ bangsa ataupun Negara) bersumber pada”Alqur’an , Hadist,Isma,Qias”.

B. Upaya pemerintah mengatasi pemberontakan

B.1 Upaya Pemusnahan yang dilakukan Pemerintah
pemerintah bekerja sama dengan rakyat setempat.Dan dijalankan lah taktik dan strategi baru yang disebut Perang Wilayah. Pada tahun 1 April 1962 pasukan Siliwangi bersama rakyat melakukan operasi “Pagar Betis(mengepung pasukan DI/TII dengan mengepung dari seluruh penjuru )” dan operasi “Bratayudha(operasi penumpasan gerakan DI/TII kartosuwirjo).
B.2 Dimana Tertangkap ?
Pada tanggal 4 juni 1962, S.M.Kartosuwiryo beserta para pengikutnya berhasil ditanggap oleh pasukan Siliwangi di Gunung Geber, Majalaya, Jawa Barat.

C. Bagaimana nasib para pemberontak?
Sekarmadji Maridjan kartosoewiryo sempat mengajukan grasi kepada Presiden,tetapi di tolak. Akhirnya S.M.Kartosuwiryo dijatuhi hukuman mati di hadapan regu tembak dari keempat angkatan bersenjata RI 16 Agustus 1962.

 DI / TII Jawa Tengah (Pada tanggal 23 Agustus 1949, Pepimpinya Amir Fatah dan Mahfu’dz Abdurachman ( Kyai Somalangu)).

A. Sebab Umum dan Khusus Pemberontkan dan Tujuan Pemberontkan
A.1 Sebab Khusus Pemberontakan
Terjadi karena Batalion 624 pada Desmber 1961 membelot dan menggabungkan diri dangan DI/TII di daerah Kudus dan Magelang(selain di daerah Tegal-Brebes , di daerah selatan(Kebumen ) juga terdapat gerkan DI/TII yang dipimpin oleh Muhamad Mahfudh Abdurahcman / Kyai Somalangu .

A.2 Tujuan Pemberontakan
1. Ingin mendirikan negara yang berdasarkan agama islam lepas dari NKRI
2. Menjadikan Syariat islam sebagai dasar Negara ( pola tingkah laku ,dalam keluarga /masyarakat/ bangsa ataupun Negara) bersumber pada”Alqur’an , Hadist,Isma,Qias”.

B. Upaya Pemerintah Mengatasi Pemberontakan
Untuk menumpas pemberontakan ini pada bulan Januari 1950 pemerintah melakukan operasi kilat yang disebut “Gerakan Banteng Negara” (GBN) di bawah Letnan Kolonel Sarbini (selanjut-nya diganti Letnan Kolonel M. Bachrun dan kemudian oleh Letnan Kolonel A. Yani). Gerakan operasi ini dengan pasukan “Banteng Raiders.” Sementara itu di daerah Kebumen muncul pemberontakan yang merupakan bagian dari DI/ TII, yakni dilakukan oleh “Angkatan Umat Islam (AUI)” yang dipimpin oleh Kyai Moh. Mahudz Abdurachman yang dikenal sebagai “Romo Pusat” atau Kyai Somalangu. Untuk menumpas pemberontakan ini memerlukan waktu kurang lebih tiga bulan.
Pemberontakan DI/TII juga terjadi di daerah Kudus dan Magelang yang dilakukan oleh Batalyon 426 yang bergabung dengan DI/TII pada bulan Desember 1951. Untuk menumpas pemberontakan ini pemerintah melakukan “Operasi Merdeka Timur” yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto, Komandan Brigade Pragolo.

C. Bagaimana Nasib Pemberontak.
Pada awal tahun 1952 kekuatan Batalyon pemberontak terrsebut dapat dihancurkan dan sisa- sisanya melarikan diri ke Jawa Barat dan ke daerah GBN.


 DI / TII Sulawesi Selatan (Oktober 1950 Pepimpinya Kahar Mudzakar )

A. Sebab Umum dan Sebab Khusus Pemberontakan dan Tujuan pemberontakan.
A.1 Sebab Khusus pemberontakan
Karena ketidakpuasnya pada kebijakan pemerintah tentang rasionalisasi(15000 KGSS menjadi Anggota APRIS) Pemeritah RI Melancarkan operasi militer yang berintikan pasukan dari divisi siliwangi .



A.2 Sebab Umum Pemberontakan .
1. Terjadinya konflik antara anggota KGSS dengan TNI .
2. KGSS kecewa berat karena mulai 1 Juni 1950 KGSS dibubarkan oleh panglima
TT VII kol Kaliuwarang
3. Kahar Muzakar kecewa kepada Kabinet Natsir yang tidak jadi mengangkatnya menjadi komandan yang punya 4000 orang di TNI A.

A.3 Tujuan Pemberontakan
Kahar Muzakar menuntut agar Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan dan kesatuan gerilya lainnya dimasukkan delam satu brigade yang disebut Brigade Hasanuddin di bawah pimpinanya.

B. Upaya Pemerintah Mengatasi Pemberontakan
pemerintah melakukan operasi militer. Baru pada bulan Februari 1965 Kahar Muzakar berhasil ditangkap dan ditembak mati sehingga pemberontakan DI/TII di Sulawesi dapat dipadamkan.
C. Bagaimana Nasib Pemberontak.
Tanggal 3 Februari 1965, Kahar Muzakar tertembak mati dalam sebuah kontak senjata dengan pasukan RI. sehingga pemberontakan DI/TII di Sulawesi dapat dipadamkan.

 DI / TII Kalimatan Selatan(Oktober 1950 , Pepimpinya Ibnu Hajar atau Haderi bin Umar atau Angli)

A. Sebab Umum dan Sebab Khusus Pemberontakan dan Tujuan pemberontkan
A.1 Sebab Khusus Pemberontakan
ALRI Divisi 4 kecewa kepada Pemerintah pusat karana gaji dan jaminan sosial diluar pulau jawa lebih kecil disbanding gaji dan jaminan Perwira/ tentara di dalam pulau Jawa.

A.2 Sebab Umum Pemberontakan
Pemuda dan pejuang Kalimanta Selatan tdak mendapat sertifikat pejuang.

A.3 Tujuan Pemberontakan
Agar semua perwira dan tentara di dalam maupun diluar pulau jawa mendapatkan perlakuan yang adil.

B. Upaya Pemerintah Mengatasi Pemberontakan
1. Dalam menghadapi gerombolan DI/TII tersebut pemerintah pada mulanya melakukan pendekatan kepada Ibnu Hajar dengan diberi kesempatan untuk menyerah, dan akan diterima menjadi anggota TNI. Ibnu Hajar pun menyerah, akan tetapi setelah menyerah melarikan diri dan melakukan pemberontakan lagi.

2. Pemerintah melakukan tindakan tegas dengan cara menggempur pusat pertahanan gerombolan Ibnu Hajar.

C. Bagaimana Nasib Pemberontak
Ibnu Hadjar berhasil ditangkap dan pada 22 maret 1965 dan ia dijatuhkan hukuman mati oleh pengadilan militer.

2. Pemberontakan PKI Madiun 1948( Pada tanggal 18 September 1948, Pepimpinya Amir Syarifuddin dan Muso )

Amir Syarifuddin mengecam hasil Perjanjian Renville dan menyusun kekuatan dalam Front Demokrasi Rakyat(FDR) yang dibentuk pada tanggal 28 Juni 1948 di Surakarta, Front ini menyatukan semua golongan sosialis kiri dan komunis. Kekuatan PKI makin bertambah besar setelah kedatangan Musso dari Uni Soviet. Muso menyusun doktrin PKI dengan nama Jalan Baru dengan dibentuknya Front Nasional, yaitu penggabungan segala kekuatan sosial, politik, dan perorangan yang berjiwa antiimperialistis dan untuk menjamin kelangsungan Front Nasional maka dibentuklah Kabinet Front Nasional yang terdiri dari PKI, Partai Sosialis, dan Partai Buruh Indonesia. Selain itu, didukung pula oleh Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI).
Insiden di Delanggu menjadi insiden bersenjata di kota Surakarta antara pendukung Front Demokrasi Rakyat dengan kelompok Tan Malaka yang bergabung dalam Gerakan Revolusi Rakyat, maupun dengan pasukan hijrah TNI. Insiden-insiden memang telah direncanakan oleh PKI yang bertujuan daerah Surakarta dijadikan daerah kacau, sedangkan daerah Madiun dijadikan basis gerilya. Aksi PKI memuncak pada tanggal 18 September 1948 dengan ditandai para tokoh PKI mengumumkan berdirinya Soviet Republik Indonesia. Tindakan itu bertujuan untuk meruntuhkan Republik Indonesia hasil Proklamasi 17 Agustus 1945 yang berdasarkan Pancasila dan menggantinya dengan ajaran komunis

A. Sebab Pemberontakan dan Tujuan pemberontakan.
Sebab Pemberontakan
meruntuhkan pemerintah RI yang berdasarkan Proklamasi 17 Agustus 1945 yang akan diganti dengan pemerintah yang berdasar paham komunis .

Tujuan Pemberontakan
(1) melancarkan propaganda anti pemerintah,
(2) mengadakan pemogokan-pemogokan kerja bagi para buruh di perusahaan misalnya di
pabrik karung diDelanggu Klaten.
(3) melakukan pembunuhan-pembunuhan misalnya dalam bentrokan senjata di Solo tanggal 2
Juli 1948

B. Upaya Pemerintah Dalam Mengatasi Pemberontakan

Pemerintah membentuk Komando Operasi Penumpas( Gerakan Operasi Militer I. ) dibawah pimpinan colonel A.H.Nasution ( Panglima Markas Besar Komando Djawa(MBKD ).

C. Bagaimana Nasib Si Pemberontak
dalam operasi itu Musso akhirnya tertembak mati, dan Amir Syarifuddin dan tokoh-tokoh lainnya berhasil ditangkap dihutan Ngrambe, Grobogan, Purwodadi dan kemudian dihukum mati di Yogyakarta. Pemberontakan PKI di Madiun telah berhasil ditumpas

3. Pemberontakan APRA ( Januari 1950 , Pimpinan Kapten Raymond Wrestling )
A. Sebab - Sebab Pemberontakan dan Tujuan pemberontakan.
Sebab Pemberontakan
1. Mereka menghendaki menjadi tentara yang bebas di negara bagian Pasundan
2. menolak pembubaran negara Pasudan
3. menolaknya pembubaran RIS
4. anggota KNIL tidak mau masuk APRIS seperi yang diatur dalam KMB (karena menganggap APRA lebih professional dari APRIS )
Tujuan Pemberontakan
1. Mempertahankan kepentingan Belanda melalui negara bonekanya dalam sistim fidera
2. Mempertahankan Kepentingan ekonomi belanda – Indonesia

B. Bagaimana Nasib Pemberontakan
Sultan Hamid II berhasil ditangkap pada tanggal 4 April 1950. Akan tetapi, Westerling berhasil melarikan diri ke luar negeri.

C. Upaya Pemerintah mengatasi Pemberontakan
1. Pemerintah mengirim pasukan ke daerah Bandung .
2. Pemerintah RIS mengadakan perundingan dengan Komisaris tinggi Belanda di Jakarta , sehingga komando pasukan Belanda mendesak Wrestelling meninggalakn Bandung.



4. Pemberontakan ANDI AZIZ ( Makassar , Sulawesi Selatan , 5 April 1950 Pimpinan Andi Aziz (kapten perwira Koninklijke Nederland Indische Leger(KNIL)

A. Sebab Pemberontakan dan Tujuan Pemberontakan
Karena dipicu adanya perasaan tidak puas atas kehadiran TNI yang akan mengamankan situasi di Makassar, Karena sering terjadi pemberontakan yang mengiginkan bentuk Negara.Federal.

Tujuan Pemberontakan
1. Menghendaki agar NBIT tetap berdiri

B. Upaya Pemerintahan dalam mengatasi pemberontakan
1. Pemerintah mengirimkan suatu ekspedisi militer untuk menumpas pemberontakan itu. Yang dipimpin oleh kolonel A.E.Kawilarang dengan kekuatan 2 Brigade dan 1 Batalyon
2. 8 April 1950 dikeluarkan ultimatum bahwa dalam waktu 4 x 24 jam Andi Azis harus melaporkan diri ke Jakarta untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pasukannya harus dikonsinyasi, senjata-senjata dikembalikan, dan semua tawanan harus dilepaskan

C. Bagaimana Nasib Pemberontak
Kapten Andi Azis dihadapkan ke Pengadilan Militer di Yogyakarta untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara.

5. Gerakan Republik Maluku Selatan

A. Sebab Pemberontakan dan Tujuan Pemberontakan
Pemberontakan terjadi karena pimpinan RMS menolak perundingan yang di tawarkan oleh pemerintah

Tujuan Pemberontakan
Ingin mendirikan negara sendiri diluar wilayah NKRI dengan nama Republik Maluku Selatan

B. Upaya Pemerintahan dalam mengatasi pemberontakan
1. Upaya Damai
- Berusaha untuk mendamaikan dengan mengirim Dr. Limena, berharap agar mampu membujuk Soumokil ke NKRI. Namun tidak berhasil. Bahkan Soumokil berusaha mencari bantuan dari luar
- Mengadakan konfrensi Maluku di Semarang tgl 12-13 Juni 1950. Para pemuda mengusulkan agar Maluku Tengah di beri status ekonomi. Namun semua upaya tidak berhasil.
2. Upaya Penunpasan
-Dengan mengirim ekspidisi dengan sasaran pulau Buruh-Serang, dan Ambon. Ada 3 group yaitu:
1. Group I dipimpin Mayor Achmad Wiranatakusuma
2. Group II dipimpin oleh Letnan Kolonel Slamet Riyadi
3. Group III dipimpin oleh Mayor Surjo Subandjo

C. Bagaimana Nasib Pemberontak
Dr. Soumokil berhasil ditangkap selanjutnya tanggal 21 April 1964 diadili oleh Mahkamah Militer Laut Luar Biasa dan dijatuhi hukuman mati. Dan sisa-sisa gerakkan RMS melarikan diri ke Pulau Seram bahkan ke negeri Belanda.

6. Pemberontakan PRRI/PERMESTA

A. Sebab Pemberontakan dan Tujuan Pemberontakan
1) Para perwira yang ada luar Jiwa marasa adanya kesenjangan kesejahteraan tentara yang ditugaskan di luar dan di dalam Jawa.
2) Adanya anggapan bahwa pembangunan hanya dipusatkan di Pulau Jawa
3) Adanya pertentangan politik yang berlarut-larut dimana setiap parpol berusaha untuk saling menjatuhkan ( Ingat ! Anggota Konsituante gagal beat UUD baru dan kembali ke UUD 1945 )
4) Lahirnya konsepsi Soekarno tahun 1951 dengan tentang “Pelaksaan Demokrasi Terpimpin”.

Tujuan pembentukan dewan-dewan !
Untuk membantu masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan karena tidak diperhatikan oleh pemerintah pusat.
Diantara 5 Dewan, Dewan Bantenglah yang berani Ultimatum pemerintah pusat dengan mengeluarkan 3 ultimatum, Letkol. Husain ditemani oleh Kol. Dahlan, Kol. Jambak, Kol. Simbolon :
1. Dalam waktu 5x24 jam cabinet Juanda diserahkan kepada Soekarno
2. Presiden Soekarno harus segera menugaskan Drs. Mohammad Hatta dan Sultan Hamengkubuwono IX untuk mengesahkan cabinet (kabinet zaken : membentuk cabinet yang alih dalam bidangnya).
3. Meminta kepada Presiden Soekarno supaya kembali pada kedudukannya sebagai presiden yang konstitusional(UUD).

B . Pemerintah Pusat menanggapi tegas Ultimatum:
1. Memecat dengan tidak hormat mereka dari keanggotaan TNI(achmad Husein, Simbolon, Zulfifli Lubis, dan Dahlan Djambek).
2. Pemerintah juga menagkapkan mereka ke pengadilan MAHMILU.
3. Mulai tanggal 12 Februari 1958 Abdul Halis Nasution sebagai angkatan darat membekukan Komando dan staff KODAM Sumatera Tengah.

Pada tanggal 15 Februari 1958 mendidirikan organisasi yang bernama Gerakan Perjuangan Mdiketuai oleh Letnan Kolonel Achamad Husein. Gerakan Husein ini akhirnya mendirikan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) yang berkedudukan di Bukittinggi dengan Syafruddin Prawiranegara sebagai pejabat presiden. Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) pada hari berikutnya mendukung dan bergabung dengan PRRI sehingga gerakan bersama itu disebut PRRI/Permesta. Permesta yang berpusat di Manado tokohnya adalah Letnan Kolonel Vantje Sumual, Mayor Gerungan, Mayor Runturambi, Letnan Kolonel D.J. Samba, dan Letnan Kolonel Saleh Lahade. Pada tanggal 17 Februari Kolonel D.J.Samba sebagai komandan Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah mendukung sepenuhnya lahirnya PRRI di Sumatera dan saat itu juga menyatakan Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah putus hubungan dengan Pemerintah Pusat.
Untuk menumpas pemberontakan PRRI/Permesta dilaksanakan operasi gabungan yang terdiri atas unsur-unsur darat, laut, udara, dan kepolisian. Serangkaian operasi yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Operasi Tegas dengan sasaran Riau dipimpin oleh Letkol Kaharudin Nasution. Tujuan mengamankan instansi ,berhasil menguasai kota Pekanbaru pada tanggal 12 Maret 1958, dan mencegah campur tangan asing.
Bukti adanya bangsa asing :
a. Minyak bumi CALTEX
b. Pesawat B-26 jatuh tertembak di kota Ambon 18 Mei 1958 tapi pilotnya masih hidup yang bernama Alan Lawrence Pope(Amerika Serikat) diadili tanggal 11 Januari 1960 di Jakarta, sementara Mayor(laut) R.Soedomo yang memberikan kesaksian.
c. Banyak senjata senjata made in Amerika lebih canggih dari pada senjata senjata TNI Indonesia.
2. Operasi 17 Agustus dengan sasaran Sumatera Barat dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani berhasil menguasai kota Padang pada tanggal 17 April 1958 dan menguasai Bukittinggi 14 Mei 1958.
3. Operasi Saptamarga dengan sasaran Sumatera Utara mencari pendukung Komarudin Simbolon dipimpin oleh Brigjen Jatikusumo.
4. Operasi Sadar dengan sasaran Sumatera Selatan dipimpin oleh Letkol Dr. Ibnu Sutowo mencari Kolonel Barlian.
Untuk menumpas pemberontakan Permesta dilancarkan operasi gabungan dengan nama Merdeka yang terdiri dari :
A. Operasi Saptamarga I dengan sasaran Sulawesi Utara bagian Tengah, dipimpin oleh Letkol Sumarsono.
B. Operasi Saptamarga II dengan sasaran Sulawesi Utara bagian Selatan, dipimpin oleh Letkol Agus Prasmono.
C. Operasi Saptamarga III dengan sasaran Kepulauan Sebelah Utara Manado(Tangir dan Talaut), dipimpin oleh Letkol Magenda.
D. Operasi Saptamarga IV dengan sasaran Sulawesi Utara, dipimpin oleh Letkol Rukminto Hendraningrat .
E. Operasi Mena I dengan sasaran Jailolo, dipimpin oleh Peters.
F. Operasi Mena II dengan sasaran Lapangan udara di Morotai, dipimpin oleh Humholz.
Akhirnya, pada akhir Mei 1961 Ahmad Hoesin melaporkan diri dengan pasukannya ke pemerintah pusat dan diikuti oleh para tokoh tokoh lainnya, lalu tanggal 22 Juni 1961 pemerintah RI memberikan amnesty dan abolisi baik PRRI/PERMESTA setia pada NKRI.

C . Bagaimana Nasib Pemberontak
Satu persatu dewan pimpinan menyerah 29 mei 1961 , secara resmi Ahmad Husein melaporkan diri dengan diikuti Syariffudin Prawiranegaea


Daftar Pustaka

1. http://benazirblog.blogspot.com/2009/03/pemberontakan-ditii-di-sejumlah-daerah.html
2. http://smpn1banjar-pdg.net/index.php?view=article&catid=34:artikel&id=52:diitii&tmpl=component&print=1&page=
3. http://osdir.com/ml/culture.region.indonesia.sunda/2006-04/msg00200.html
4. http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Strategi_Nasional_dalam_Menghadapi_Peristiwa_Madiun/PKI,_DI/TII,_G_30_S/_PKI,_dan_Konflik-Konflik_Internal_Lainnya_9.2_(BAB_13)#1._Pemberontakan_DI_.2F_TII _di_Jawa_Barat
5. http://lukulo.blogspot.com/2008/01/peristiwa-tragedi-nasional.html
6. http://banisurahman.blogspot.com/2009/10/perjuangan-bangsa-indonesia.html
7. Catatan Tambahan materi
8. Alfian Maqdalia , Nana Nurliana Soeyono , Sudarini Suhartono , Esis ,Sejarah untuk kelas XII ,Penerbit Erlangga(hal 88-100)

1 komentar: